TpG6BSAiBUYlBUY5TUr5GfriGi==

Mengenal Lebih Dekat Ki Enthus Susmono

 MlatenMania.com - Enthus Susmono dilahirkan dari keluarga dalang, pada tanggal 21 Juni 1966 di Desa Dampyak, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal. Enthus Susmono adalah anak satu-satunya Soemarjadihardja, seorang dalang wayang golèk terkenal di Tegal, dengan istri ketiga yang bernama Tarminah, bahkan R.M. Singadimedja kakek moyangnya adalah dalang terkenal dari Bagelen pada masa Pemerintahan Sunan Amangkurat di Mataram. Sejak berumur 5 tahun Enthus Susmono sering mengikuti pementasan bapaknya. Oleh karena itu, Enthus Susmono sangat akrab dengan dunia pedalangan. Kemampuan Enthus Susmono dalam mendalang tidak didapat dari lembaga pendidikan formal saja, melainkan mengikuti kursus pedalangan dan belajar dari bapaknya. Selain itu, Enthus Susmono juga berlatih serius kepada Ki Sugino Siswotjarito (Banyumas) dan Ki Gunawan Suwati (Slawi), serta aktif mendengarkan rekaman pakeliran Ki Narto Sabdo (Semarang) dan Ki Anom Suroto (Surakarta).

Mengenal Lebih Dekat Ki Enthus Susmono

Pada tahun 1984, Enthus Susmono ketika masih duduk kelas 2 sekolah menengah atas sempat mengikuti festival pakeliran padat dalang remaja se Jawa Tengah. Enthus Susmono dalam festival pakeliran padat mewakili Kabupaten Tegal. Pakeliran padat dalang remaja merupakan festival yang diselenggarakan oleh Pepadi bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Klaten. Enthus Susmono meraih juara di beberapa perlombaan pakeliran se Jawa Tengah, dan berkat keberhasilannya ini, maka ia mampu mengangkat namanya ke lingkup yang lebih luas, sehingga kemampuannya sebagai dalang wayang kulit mulai menjadi dikenal masyarakat terutama di Wilayah Pantai Utara Jawa Tengah. Kariernya sebagai dalang mulai menanjak setelah Enthus Susmono sering tampil dalam pertunjukan wayang kulit dua layar yang diselenggarakan oleh Panitia Tetap (Pantap) yang diselenggarakan dihalaman Kantor Gubernur Semarang dan ditayangkan langsung oleh TVRI Stasiun Semarang.

Enthus Susmono dengan segala kiprahnya yang kreatif, inovatif serta intensitas eksplorasi yang tinggi telah membawa dirinya menjadi salah satu dalang kondang dan terbaik yang dimiliki Indonesia, terutama Kabupaten Tegal. Pada umumnya dalang dalam setiap pagelaran selalu terpaku pada pola dasar pertunjukan atau yang sering disebut pakem, salah satunya penggunaan bahasa Jawa halus atau Jawa Keraton yakni dengan penggunaan bahasa yang sopan dan menjauhkan kata-kata kasar. Hal ini, berbeda jauh dengan Enthus Susmono, yang dalam setiap pagelaran wayangnya selalu keluar dari pakem, salah satunya dengan menggunakan bahasa Jawa logat Tegal. Bahasa Jawa logat Tegal adalah salah satu dialek yang penggunaannya meliputi daerah Kabupaten Tegal, Kotamadya Tegal, Kabupaten Pemalang, dan Kabupaten Brebes. Dialek Tegal berbeda dengan dialek Banyumasan, sehingga pengguna dialek ini tidak mau disebut ngapak karena beberapa alasan antara lain perbedaan intonasi, pengucapan, dan makna kata.

Enthus Susmono selalu memasukan unsur dialek Tegal dalam setiap pagelaran wayangnya, selain itu Enthus Susmono seringkali menggunakan kata-kata kotor, tidak sopan tanpa melihat penonton yang hadir dalam pentas wayang tersebut, ada pejabat maupun tokoh agama, sehingga Enthus Susmono mendapat julukan dalang edan. Berkat kegilaan Enthus Susmono di setiap pagelaran wayangnya, kepopuleran dari dalang edan itu banyak dikenal masyarakat terutama Kabupaten Tegal dan daerah lainnya.

Perjalanan Karir Politik Enthus Susmono

Selama hidup Ki Enthus Susmono tidak hanya berkiprah dalam bidang kebudayaan, tetapi juga aktif dalam bidang politik. Berikut penulis menjelaskan mengenai kiprah Ki Enthus pada bidang kebudayaan dan juga bidang politik. Keterlibatannya di dunia politik berawal kasus dugaan perusakan kantor Radio Citra Pertiwi Kabupaten Tegal, dengan dakwaan menghasut massa, dengan lisan atau tulisan, agar tidak menurut pada peraturan undang-undang. Pada tangal 3 November, ia dan kawan-kawannya keluar dari Kantor KPU Kabupaten Tegal. Kerusuhan tersebut disebabkan oleh adanya penggelembungan suara calon Bupati/Wakil Bupati Tegal terpilih, Agus Riyanto-Moch Hery Soelistiawan. Ki Enthus kemudian membawa massa ke kantor Radio Pertiwi, sambil mengatakan bahwa radio tersebut milik rakyat.

Atas kejadian pengumpulan massa, Ki Enthus diberi hukuman penjara selama 2,5 bulan. Setelah masa tahanan berakhir, Ki Enthus Susmono bertemu dengan Kyai Samir dan saat itu Kyai Samir yang memberikan saran kepada Ki Enthus untuk terjun langsung ke dunia politik. Melihat sebelumnya Ki Enthus Susmono cukup sering mengutarakan kritik pedas hingga ikut serta dalam pergerakan masyarakat.

Ki Enthus Susmono menjadikan saran tersebut menjadi salah satu alasan Ki Enthus terjun ke dunia politik. Selain itu, pengalaman hidup Ki Enthus selama menjalani masa tahanan membuat Ki Enthus semakin bulat berkeinginan untuk memperjuangkan dan membela kepentingan rakyat sehingga memutiskan untuk bergabung dengan partai politik.

Awal mula Ki Enthus Susmono masuk dalam dunia politik, Ki Enthus bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Bergabungnya Ki Enthus ke partai kebangkitan nasional dilatarbelakangi oleh adanya kesamaan iklim atau visi misi antara partai dengan pribadi Ki Enthus sendiri. Selain itu Ki Entus yang memiliki latar belakang keislaman yang kental dan kedekatannya dengan beberapa Kyai membuatnya merasa terpanggil untuk bergabung dalam partai dengan unsur keislaman yang kuat.

Selain itu, Ki Enthus sudah aktif bergerak dengan Banser dan iklim keislamannya. Ki Enthus berkeinginan untuk melanjutkan iklim keislaman yang telah Ki Enthus jalankan sejak dulu. Sehingga ini juga yang melatar belakangi bergabungnya Ki Enthus Susmono dengan PKB.

Sebelum bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Ki Enthus Susmono pernah cukup aktif dalam era reformasi, kritik-kritik keras yang sering Ki Enthus lontarkan melalui pagelaran wayang kepada pemerintah di era tersebut. Ki Enthus merasa memang hal ini dibutuhkan oleh masyarakat pada masa reformasi untuk melawan pemerintahan yang dzalim.

Walaupun sempat terkena kecaman dari beberapa pihak pro pemerintah mengenai cara mendalangnya, akan tetapi akhirnya masyarakat sendiri yag melakukan pembelaan dan menyatakan memerlukan sosok seperti Ki Enthus yang berani melakukan kritik-kritik keras kepada pemerintah.

Setelah Ki Enthus bergabung bersama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Ki Enthus Susmono kemudian melanjutkan karir politiknya dengan mencalonkan sebagai Bupati Tegal. Ki Enthus merasa terpanggil untuk berkontribusi agar memiliki kesempatan untuk menata kembali kota tegal setelah bupati sebelumnya masuk penjara.

Ki Enthus Susmono yang bergabung dengan PKB akhirnya mencalonkan diri sebagai Bupati Tegal periode 2014-2019 didampingi Umi Azizah. Setelah dilakukan pemilihan, Ki Enthus dan Umi Azizah berhasil memenangkan pilkada dengan memperoleh suara terbanyak pada saat itu.

Sebagai bupati, Ki Enthus memiliki pemikiran besar yang banyak diimplementasikan melalui berbagai kebijakan. Yang berangkat dari visi misi pada saat Ki Enthus mencalonkan diri sebagai Bupati Tegal serta kewajiban Ki Enthus Susmono untuk merealisasikannya.

Di tahun 2018, Ki Enthus Susmono sudah menyiapkan dirinya untuk mencalonkan kembali sebagai Bupati Tegal Bersama Umi Azizah sebagai Wakil Bupati Tegal. Akan tetapi saat memasuki masa kampanye, Ki Enthus justru wafat diusianya yang menginjak 52 tahun. Wafatnya Ki Enthus dikarenakan riwayat penyakit yang dimiliki oleh Ki Enthus Susmono yaitu serangan jantung di tanggal 18 Mei 2018. Wafatnya Ki Enthus menjadi duka yang mendalam bagi keluarga dan juga masyarakat Kabupaten Tegal karena Ki Enthus Susmono merupakan salah satu tokoh penting dan bepengaruh di Kabupaten Tegal. Kepemimpinan Ki Enthus yang berpihak kepada rakyat menimbulkan kecintaan terhadap sosok Ki Enthus Susmono.

Demikian artikel mengenai Mengenal Lebih Dekat Ki Enthus Susmono, mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semuanya. Sekian dan terimakasih.

Komentar0

Tinggalkan komentar Anda disini:

Type above and press Enter to search.