TpG6BSAiBUYlBUY5TUr5GfriGi==

Mengenal Lebih Dekat Kelelawar

 MlatenMania.com - Indonesia memiliki keanekaragaman hayati tinggi yang mencakup keanekaragaman flora, fauna dan mikroba. Tingginya keanekaragaman hayati ini dikarenakan wilayah Indonesia yang terletak di daerah tropik, memiliki berbagai macam tipe habitat, serta berbagai isolasi sebaran berupa laut atau pegunungan. Indonesia memiliki keanekaragaman jenis kelelawar yang cukup tinggi, lebih dari 205 jenis kelelawar yang terdiri dari 72 jenis kelelawar pemakan buah (Megachiroptera) dan 133 jenis kelelawar pemakan serangga (Microchiroptera); atau sekitar 20% dari jumlah jenis di dunia yang telah diketahui.

Mengenal Lebih Dekat Kelelawar

Kelelawar memiliki peranan penting dalam ekosistem. Kelelawar berfungsi sebagai pemencar biji tumbuh-tumbuhan di hutan tropik. Karena perilaku makan dan kemampuan terbang yang jauh menyebabkan daya pencar biji-bijian pun jauh. Fungsi lainnya adalah sebagai penyerbuk bunga. Terdapat sekitar 300 jenis tanaman tropik yang penyerbukan dan pemencarannya dilakukan oleh kelelawar. Contoh tanaman bernilai ekonomi yang dibantu penyerbukannya oleh kelelawar adalah durian (Durio zibethinus), aren (Arenga sp), petai (Parkia speciosa), kapuk randu (Ceiba pentandra), pisang-pisangan (Musa sp) kelapa (Cocos nucifera). Selain itu kelelawar merupakan penghasil guano yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Guano kelelawar memiliki kandungan bahan-bahan utama pupuk yaitu 10% nitrogen, 3% fosfor dan 1% potasium. Kandungan nitrogen yang tinggi dapat mempercepat pertumbuhan tanaman, sedangkan fosfor dapat merangsang pertumbuhan akar. Akan tetapi keanekaragaman hayati dan peranan ini belum mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah maupun masyarakat dalam usaha konservasi kelelawar. Masyarakat pada umumnya menganggap kelelawar sebagai hama karena memakan buah-buahan dari tanaman budidaya, sehingga banyak perburuan kelelawar yang menyebabkan habitatnya terganggu dan populasi kelelawar di alam menurun.

Ekosistem gua merupakan salah satu ekosistem yang paling rentan di muka bumi dan merupakan tempat berlangsungnya proses adaptasi dan evolusi berbagai jenis organisme. Lebih dari 50% Microchiroptera dan 20% Megachiroptera tinggal di gua. Sebagai penghuni gua, kelelawar memiliki peranan yang sangat penting bagi ekosistem di dalam gua, namun hingga saat ini kawasan gua tidak luput dari usaha-usaha eksploitasi yang berpontensi menghancurkan fungsi gua baik sebagai habitat alami kelelawar maupun sebagai pengatur siklus hidrologi.

Klasifikasi Kelelawar

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Sub Filum : Vertebrata

Kelas : Mamalia

Ordo : Chiroptera

Sub Ordo : 

  • Megachiroptera
  • Microchiroptera

Saat ini tercatat 1.111 jenis kelelawar yang tersebar hampir di seluruh dunia. Diperkirakan keanekaragaman jenis kelelawar lebih dari 50% dari keanekaragaman seluruh mamalia. Hampir seperempat dari seluruh jenis mamalia di dunia merupakan anggota ordo Chiroptera. Jenis kelelawar yang sudah diketahui di Indonesia berkisar 205 jenis yang terbagi menjadi 9 famili dan 52 genus. Kesembilan famili tersebut antara lain Pteropodidae, Megadermatidae, Nycteridae, Vespertilionidae, Rhinolophidae, Hipposideridae, Emballonuridae, Rhinopomatidae dan Mollosidae.

Morfologi Kelelawar

Kelelawar termasuk ordo Chiroptera. Chiroptera berasal dari bahasa Yunani “cheir” yang berarti tangan, dan “pteros” yang berarti selaput, atau dapat diartikan sebagai “sayap tangan”, karena kaki depannya termodifikasi menjadi sayap. Sayap ini dinamakan patagium, yang membentang dari tubuh sampai jari kaki depan, kaki belakang, dan ekornya. Pada kelelawar betina, patagium berfungsi untuk memegang anaknya yang baru dilahirkan dengan kepala di bawah. Selain untuk terbang, sayap kelelawar berfungsi untuk menyelimuti tubuhnya ketika cuaca dingin dan mengipaskan sayapnya jika cuaca panas, kelelawar aktif pada malam hari karena pada siang hari dapat mengakibatkan radiasi yang merugikan sayap yang disebabkan karena terkena cahaya matahari sehingga lebih banyak panas yang diserap daripada yang dikeluarkan. Hal ini dikarenakan sayap kelelawar hanya berupa selaput kulit tipis yang sangat rentan terkena sinar matahari.

Kelelawar memiliki dua sub ordo yaitu Megachiroptera dan Microchiroptera. Megachiroptera umumnya herbivora dan memiliki ciri-ciri mata besar, penciuman yang baik, memiliki struktur telinga yang sederhana, tidak memiliki tragus/antitragus, ekor biasanya pendek bahkan tidak ada, jari sayap kedua umumnya bercakar, kecuali Eonycteris, Dobsonia, dan Neopteryx. Megachiroptera yang paling kecil (Balionycteris, Chironax, dan Aethalops) berbobot 10 gram, dan yang paling besar Kalong kapuk (Pteropus vampyrus) bisa mencapai berat 1500 gram, bentangan sayapnya mencapai 1700 mm, dan lengan bawah sayapnya 36-228 mm, sedangkan Microchiroptera merupakan insektivora, dan sebagian kecil merupakan omnivora, karnivora, piscivora, frugivora dan nectarivora. Microchiroptera umumnya berukuran kecil, memiliki struktur telinga yang kompleks, memiliki tragus/antitragus. Tragus adalah bagian menonjol dari dalam daun telinga seperti tongkat, sedangkan antitragus adalah bagian menonjol dari luar daun telinga yang berbentuk bundar atau tumpul.

Microchiroptera paling kecil berbobot 2 gram dan paling besar 196 gram, dan lengan bawah sayapnya 22-115 mm. Jenis kelelawar tertentu, terutama famili Rhinolophidae dan Hipposideridae memiliki bagian khusus pada wajah, terutama di bagian lubang hidung, yang disebut daun hidung. Bagian ini merupakan tonjolan kulit. Pada jenis-jenis kelelawar lain, daun hidungnya sangat sederhana, berupa lipatan kulit yang kecil tunggal dan tumbuh di ujung hidung saja. Jari sayap kedua tidak bercakar, tetapi pada genus Miniopterus memiliki panjang ruas akhir (kedua) jari sayap nomor tiga hampir tiga kali panjang ruas jari pertama.

Reproduksi Kelelawar

Kelelawar melahirkan anaknya dalam keadaan head-down (posisi terbalik) pada posisi roosting. Selaput kulit (patagium) digunakan sebagai tempat melahirkan anaknya. Pada umumnya kelelawar berkembang biak hanya satu kali dalam setahun dengan masa kehamilan 3 sampai 6 bulan, dan hanya bisa melahirkan satu atau dua ekor bayi setiap periode melahirkan. Bayi yang baru dilahirkan ini mempunyai bobot yang dapat mencapai 25-30% dari bobot tubuh induknya, lebih besar dari bayi manusia yang mencapai 5% dari bobot tubuh induknya.

Kelelawar yang baru lahir memiliki gigi susu, tetapi akan segera digantikan dengan gigi permanen. Gigi susu pada beberapa jenis cukup tajam dengan bentuk membengkok. Ini dapat membantu bayi kelelawar berpegangan pada induknya saat induknya terbang berkeliling dengan menggendong bayinya. Kelelawar pemakan serangga memiliki geraham yang sangat tajam dan digunakan untuk menghancurkan serangga, sedangkan taringnya didesain untuk menggigit dan membawa mangsa yang masih hidup. Gigi tengah umumnya sangat kecil pada kelelawar pemakan serangga dan ketika membuka mulut, terlihat seperti tidak memiliki gigi depan sama sekali. Kelelawar pemakan buah memiliki geraham yang besar dan kuat untuk mengunyah buah dan biji-bijian. Juga memiliki otot rahang yang kuat untuk membantu mengunyah makanan yang keras.

Habitat dan Daerah Jelajah Kelelawar

Kelelawar hidup pada beberapa tipe habitat seperti gua, hutan alami, hutan buatan, dan perkebunan. Kelelawar mempunyai banyak alternatif dalam memilih tempat bertengger. Jenis kelelawar seperti Kalong kapuk (Pteropus vampyrus), Cecadu pisang besar (Macroglosus sobrinus) dan kebanyakan jenis sub ordo Megachiroptera lainnya memilih tempat bertengger untuk tidur pada pohon-pohon yang tergolong besar, sebaliknya beberapa jenis kelelawar yang termasuk sub ordo Microchiroptera lebih banyak memilih tempat berlindung pada lubanglubang batang pohon, celah bambu, maupun gua. Beberapa jenis hidup secara berkoloni, berkelompok kecil, berpasangan, dan bahkan hidup soliter.

Kelelawar gua sebagian besar termasuk sub ordo Microchiroptera. Ukuran tubuhnya yang relatif kecil, bola mata kecil dan tidak berfungsi sebagai alat penglihatan merupakan penyesuaian dengan keadaan di dalam gua yang gelap. Kemampuan penglihatan kelelawar untuk terbang dalam kegelapan digantikan oleh kemampuan penala gema yang dikenal dengan istilah ekholokasi. Ketika terbang, kelelawar mengeluarkan suara berfrekuensi tinggi (ultrasonik) rata-rata 50 Khz yang tidak terdengar oleh telinga manusia yang hanya dapat menangkap suara 3-18 Khz. Pantulan suara ultrasonik (ekholokasi) dapat digunakan untuk memandu arah terbang, mengenali dan melacak posisi mangsanya.

Daerah jelajah kelelawar ketika mencari makan bervariasi seperti Cecadu pisang besar (Macroglosus sobrinus), yang mencapai radius 3 km, sedangkan Lalai kembang (Eonycteris spelaea) mencapai radius 40 km, sementara Kalong kapuk (Pteropus vampyrus) mencapai radius 60 km. Kelelawar pada waktu terbang membutuhkan oksigen yang jauh lebih banyak dibandingkan ketika tidak terbang (27 ml berbanding 7 ml Oksigen/1 gram bobot tubuhnya), dan denyut jantung berdetak lebih kencang (822 kali berbanding 522 kali permenit), untuk mendukung kebutuhan tersebut, jantung kelelawar berukuran relatif lebih besar dibandingkan kelompok lain (0,9% berbanding 0,5% bobot tubuh).

Perilaku Makan Kelelawar

Kebiasaan makan kelelawar bervariasi seperti kebanyakan mamalia pada umumnya. Keanekaragaman makanan disesuaikan dengan morfologi dan fisiologi pada kelelawar. Jenis pakan dari beberapa kelelawar adalah arthropoda, serangga, mamalia kecil, burung, reptil, amfibi, ikan, darah, bangkai, buah, bunga, nektar, polen dan daun.

Sub ordo Megachiroptera memiliki komposisi pakan sebagian besar terdiri atas buah, bunga, daun, polen dan nectar. Lebih dari 250 jenis kelelawar memakan satu atau beberapa jenis tumbuhan, dengan memakan buah ataupun nektar bunga sedangkan sub ordo Microchiroptera sebagian besar adalah pemakan serangga, selain itu beberapa terdapat jenis sub ordo Microchiroptera adalah penghisap darah misalnya Desmodus rotundus dan pemakan madu misalnya Leptonecteris curasoae. Meskipun serangga merupakan komponen utama dari kebanyakan pakan kelelawar tetapi laba-laba, kalajengking, udang-udangan dan arthropoda lainnya juga dimakan, sekitar 70% dari semua spesies kelelawar adalah pemakan serangga.

Kelelawar pemakan buah dapat menyebarkan biji sekitar 47 spesies tanaman berbeda pada setiap jenis kelelawar. Penyebaran biji ini dapat meningkatkan variabilitas sifat-sifat tumbuhan yang selanjutnya akan meningkatkan kualitas hidup tumbuhan itu sendiri. Kelelawar pemakan buah atau madu ini mempunyai peranan sangat penting di dalam regenerasi hutan dan penyerbuk tanaman yang memiliki nilai komersial tinggi. Kelompok kelelawar ini sering memakan buah tidak di lokasi tanaman yang sedang berbuah, akan tetapi membawa dan membuang sepah dan biji buah jauh dari tempat lokasi tanaman tersebut.

Kelelawar pemakan nektar dan polen memiliki perilaku makan yang unik, yaitu terbang mengelilingi pohon sebelum mendarat pada kelopak bunga, melayang-layang di atas kelopak bunga kemudian secara perlahan mendekati bunga dan mulai menghisap nektar. Kelelawar menghisap nektar dari 2 sampai 3 bunga sebelum pergi.

Kelelawar pemakan serangga memiliki tubuh yang kecil, keunggulan dari ukuran tubuh yang kecil memudahkan kelelawar melakukan manuver dan kegiatan dalam hal menangkap serangga yang sedang terbang yang tertangkap oleh sistem ekholokasi jarak dekat. Serangga yang dijadikan mangsa disesuaikan dengan ukuran tubuh kelelawar, serangga dengan ukuran yang besar hanya akan menyulitkan pada saat penangkapan, penaklukan dan proses makan, hal ini akan banyak membuang energi kelelawar. Apabila ukuran serangganya terlalu kecil, penangkapan sulit dilakukan dan tidak mencukupi kebutuhan energi harian.

Demikian artikel mengenai Mengenal Lebih Dekat Kelelawar, mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semuanya. Sekian dan terimakasih.

Komentar0

Tinggalkan komentar Anda disini:

Type above and press Enter to search.